Entri Populer

Jumat, 19 November 2010

:)

Hari ini ama berangkat ke Jakarta. Ama pasti senang banget, untuk pertama kalinya ama ngerasain gimana senangnya wisuda itu. Hehehe, Maaaa, congratulation yaaa, akhirnya ama wisuda juga. Perjuangan 2 tahun yang tidak mudah untuk seorang ama. Eji masih ingat waktu ama bela – belain sesore mungkin berangkat ke padang untuk jemput tugas yang lagi dikerjain sama kak feni. Beberapa kali kondisi kesehatan ama sempat ngedrop karena mikirin tugas yang seabrek dan tak kunjung selesai. Kalau waktu sma dulu masih ada eji yang setia nolongin ama ngerjain tugas semampu eji. Tapi waktu aku masuk keperguruan tinggi, ama harus berjuang sendirian. Tapi perjuangan ama sekarang udah selesai. Ama bisa merasakan nikmatnya ilmu yang ama gali selama 2 tahun belakang ini. Semoga barokah ya ma… semoga ilmu yang ama peroleh bisa bermanfaat bagi ama baik di dunia maupun di akhirat. Walaupun nggak ada satupun dari kami yang mendampingi ketika ama wisuda, ama harus tetap semangat. Kami disini mendoakan ama, yang terpenting ama bisa balik ke Sawahlunto dengan selamat dan membawa gelar sarjana pendidikan ama. Ermmmmmmmmmm, dan yang tak kalah pentingnya ama jangan lupa bawakan oleh – oleh dari Jakartanya.
Ermmm, nggak kerasa nama ama sekarang udah berubah ya, tidak Nurbaiti lagi, tapi nama ama sekarang adalah Nurbaiti, S.PdSD. Sekali lagi selamat ya ama, kami cintaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ama sangad 

Kamis, 11 November 2010

" a m a"

Aku selalu bersyukur atas orang – orang yang Allah hadirkan di kehidupanku, bagiku, mereka semua adalah malaikat - malaikatku. Malaikat yang Allah kirimkan untuk menemani hidupku, sejak aku masih dalam kandungan, hingga aku mulai beranjak dewasa muda.
Dan salah satu dari mereka adalah ama, aku punya ama yang menurutku, tidak ada wanita sebaik dia didunia ini kecuali amaku. Aku panggil beliau “Ama”, karena sejak kecil memang itu yang diajarkan oleh mereka. Ama orang yang selalu ada didalam hatiku, yang akan rela melakukan apapun demi kami anak – anaknya. Bahkan nyawa sekalipun, mungkin akan diberikannya demi kabahagian kami. Ama selalu mendoakan kami.
Ama adalah orang yang rela menahan laparnya demi kami, rela meredam keinginannya untuk ini dan itu demi kami, ama orang yang rela menunggu ku ber jam – jam diluar ruangan kelas ketika aku sedang ujian masuk perguruan tinggi swasta. Meski saat itu ia tengah berpuasa, ia rela melakukannya. Meski ia harus seperti orang yang tidak tentu arah, karena duduk – duduk sendirian tanpa teman. Dan ketika aku keluar dari ruangan ujian ia sambut aku dengan senyumnya yang begitu indah, namun mengisyaratkan rasa letih.
Ama adalah orang yang rela berbolak – balik dari sekolahnya ke rumah setiap hari, untuk melihat keadaanku ketika aku terserang penyakit malaria. Tak peduli ia sedang letih, tak peduli ia harus kena tegur oleh pimpinannya karena harus meninggalkan muridnya. Ia tetap mengunjungi ku ketika jam kerjanya. Membawakan makanan – makanan kesukaanku, dan memberikan apa yang aku inginkan. Meski ia belum makan, meski ia harus menahan lelah dan kantuknya, ia temani aku dirumah sakit ketika menunggu antrian untuk masuk keruang dokter. Saat itu aku tidak sanggup lagi untuk duduk. Karena kondisi ku memang sedang lemah, ama harus memohon – mohon kepada perawat agar aku bisa didulukan, tapi tidak bisa. Ama minta maaf kepada ku, karena tidak bisa mengusahakannya. Benar – benar menyayat hati, karena seharusnya akulah yang minta maaf, karena sudah menyusahkan ama.
Berulangkali ama minta maaf karena tidak bisa memenuhi keinginanku. Aku masih ingat ketika mendasak ama untuk menyanggupi aku kuliah di Universitas Padjajaran. Ama minta maaf kepadaku. Aku benar – benar tidak tahu malu, bukannya mencoba untuk mengerti keadaan ama, namun sebaliknya marah, ngambek dan tidak mau mengerti.
Ama bilang “zi, kalau rezi memang pengen kuliah disana biarlah ama pinjam uang ke bank, ama juga gak bakal tenang kalau rezzi kayak gini, tapi kalau rezzi ikhlas ama mohon zi”
Ya Allah, tidak seharusnya ama ngomong kaya’ gini. Hati ku langsung luluh, aku benar – benar merasa bersalah. Sampai segitunya mama berkorban untuk memenuhi keinginan ku. Segala yang kuceritakan hanya secuil dari kasih sayang yang telah ama berikan kehidupanku. Setiap kilometer langkah kehidupan ini, selalu ada ama yang menemaniku. Ketakutan, dan kecemasan ku hilang ketika aku ingat ama.

= noname =