Aku selalu bersyukur atas orang – orang yang Allah hadirkan di kehidupanku, bagiku, mereka semua adalah malaikat - malaikatku. Malaikat yang Allah kirimkan untuk menemani hidupku, sejak aku masih dalam kandungan, hingga aku mulai beranjak dewasa muda.
Dan salah satu dari mereka adalah ama, aku punya ama yang menurutku, tidak ada wanita sebaik dia didunia ini kecuali amaku. Aku panggil beliau “Ama”, karena sejak kecil memang itu yang diajarkan oleh mereka. Ama orang yang selalu ada didalam hatiku, yang akan rela melakukan apapun demi kami anak – anaknya. Bahkan nyawa sekalipun, mungkin akan diberikannya demi kabahagian kami. Ama selalu mendoakan kami.
Ama adalah orang yang rela menahan laparnya demi kami, rela meredam keinginannya untuk ini dan itu demi kami, ama orang yang rela menunggu ku ber jam – jam diluar ruangan kelas ketika aku sedang ujian masuk perguruan tinggi swasta. Meski saat itu ia tengah berpuasa, ia rela melakukannya. Meski ia harus seperti orang yang tidak tentu arah, karena duduk – duduk sendirian tanpa teman. Dan ketika aku keluar dari ruangan ujian ia sambut aku dengan senyumnya yang begitu indah, namun mengisyaratkan rasa letih.
Ama adalah orang yang rela berbolak – balik dari sekolahnya ke rumah setiap hari, untuk melihat keadaanku ketika aku terserang penyakit malaria. Tak peduli ia sedang letih, tak peduli ia harus kena tegur oleh pimpinannya karena harus meninggalkan muridnya. Ia tetap mengunjungi ku ketika jam kerjanya. Membawakan makanan – makanan kesukaanku, dan memberikan apa yang aku inginkan. Meski ia belum makan, meski ia harus menahan lelah dan kantuknya, ia temani aku dirumah sakit ketika menunggu antrian untuk masuk keruang dokter. Saat itu aku tidak sanggup lagi untuk duduk. Karena kondisi ku memang sedang lemah, ama harus memohon – mohon kepada perawat agar aku bisa didulukan, tapi tidak bisa. Ama minta maaf kepada ku, karena tidak bisa mengusahakannya. Benar – benar menyayat hati, karena seharusnya akulah yang minta maaf, karena sudah menyusahkan ama.
Berulangkali ama minta maaf karena tidak bisa memenuhi keinginanku. Aku masih ingat ketika mendasak ama untuk menyanggupi aku kuliah di Universitas Padjajaran. Ama minta maaf kepadaku. Aku benar – benar tidak tahu malu, bukannya mencoba untuk mengerti keadaan ama, namun sebaliknya marah, ngambek dan tidak mau mengerti.
Ama bilang “zi, kalau rezi memang pengen kuliah disana biarlah ama pinjam uang ke bank, ama juga gak bakal tenang kalau rezzi kayak gini, tapi kalau rezzi ikhlas ama mohon zi”
Ya Allah, tidak seharusnya ama ngomong kaya’ gini. Hati ku langsung luluh, aku benar – benar merasa bersalah. Sampai segitunya mama berkorban untuk memenuhi keinginan ku. Segala yang kuceritakan hanya secuil dari kasih sayang yang telah ama berikan kehidupanku. Setiap kilometer langkah kehidupan ini, selalu ada ama yang menemaniku. Ketakutan, dan kecemasan ku hilang ketika aku ingat ama.
= noname =
Tidak ada komentar:
Posting Komentar